Tak Pandang Bulu, Reklame Brand Besar Bermasalah "Dilibas" Bapenda Padang

Penampakan petugas membongkar reklame produk yang bermasalah di sebuah kawasan di Kota Padang. Ist
PADANG-Sejumlah reklame bermasalah kembali ditertibkan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Padang disejumlah titik, Rabu (5/7). Reklame yang ditertibkan itu melewati masa izin dan tak berizin.

Penertiban berlangsung dari Simpang Lubeg Kecamatan Lubeg hingga Simpang Balai Baru Kecamatan Kuranji Kota Padang. Sebanyak 5 buah reklame telah diamankan oleh petugas.

Kabid Pengawasan dan Pegendalian serta Pelaporan, Ikrar Prakarsa, mengatakan bahwa di antara reklame yang diamankan terdapat beberapa brand besar. Tak hanya bermasalah, pemilik rekalame brand besar itu juga memiliki tunggakan senilai ratusan juta rupiah.

"Tunggakan perusahaan besar itu sudah berlangsung lama. Tercatat oleh kami sejak tahun 2018 hingga  tahun ini. Jika dihitung dengan denda, total mencapai Rp2 miliar. Sampai sekarang mereka belum bayar tunggakan. Bahkan hingga sekarang masih ada reklame yang terpasang tanpa izin, Makanya hari ini kami tertiban," kata Ikrar Selasa (4/7).

Disebutkannya, Bapneda Padang sedang memantau brand-brand baru yang memasang iklan. Pihaknya melakukan koordinasi dengan pemilik tempat usaha yang memiliki brand atau vendor untuk bersama-sama membayar pajak.

"Kami akan terus berkoordinasi dan memeriksa pembayaran pajak sesuai dengan surat edaran yang telah diberikan kepada wajib pajak. Jika pihak terkait tidak datang ke Bapenda sesuai dengan jadwal yang ditentukan, maka kami akan mengambil keputusan untuk melakukan pembongkaran," ungkapnya.

Ikrar juga menambahkan bahwa masih banyak reklame yang terpasang tanpa izin. Ia menghimbau kepada vendor atau pemilik brand untuk bersedia membayar pajak secara kooperatif.

"Kami tidak menyalahkan vendor, namun terkadang ada beberapa vendor yang lupa membayarkan pajak. Oleh karena itu, Bapenda akan terus berusaha mengejar dan melakukan aksi di lapangan dalam rangka menertibkan reklame yang tidak memiliki izin," tutupnya. DW

0 Comments