Peringatan Hari Bakti Dokter Indonesia, IDAI Sumbar Edukasi Orangtua dan Anak

Edukasi orangtua dan anak oleh tim IDAI Sumbar. Ist
PADANG-Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumbar turut berperan dalam Expo Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) ke 115 tahun di GOR H. Agus Salim Padang, Minggu  (21/5).

Sebanyak 18 petugas terdiri dari 14 PPDS dan tujuh dokter spesialis anak memberikan pelayanan kepada pengunjung yang membawa anak-anaknya.

"Jumlah anak yang kami layani dalam expo HBDI kemarin sebanyak 90 orang. Para orangtua menyampaikan masing-masing keluhan anak-anaknya," terang Ketua IDAI Sumbar, dr. Finny Fitry Yani, Sp.A (K), kepada wartawan Selasa (22/5).

Disebutkannya, peringatan Hari Bakti Dokter Indonesia diadakan oleh Ikatan Dokter Indonesia Cabang Sumatera Barat. Acara itu terdiri dari berbagai rangkaian kegiatan salah satunya adalah  EXPO yang diikuti oleh organisasi profesi dan rumah sakit yang berada di Sumatera Barat. Setiap organisasi profesi mengangkat satu tema khusus yang akan di promosikan dalam expo ini. 

"Expo ini sasaran masyarakat luas yang berkunjung di GOR H Agus Salim. Tujuannya mengenalkan kepada masyarakat tentang peranan berbagai organisasi profesi dokter, dalam meningkatkan kualitas dan pelayanan Kesehatan," sebut Finny.

Kegiatan EXPO IDAI mengangkat tema tentang pencegahan Stunting. Kegiatan tersebut dimulai pada pukul 06.00 hingga pukul 12.00. Kegiatan EXPO terdiri dari pengukuran antropometri anak, lalu dilanjutkan dengan konsultasi dengan dokter spesialis anak mengenai “Stunting” dan bagaimana pencegahannya. Antusias masyarakat sangat tinggi, hal ini diperlihatkan dari jumlah peserta adalah sebanyak 90 orang. 

Layanan lainnya yang diberikan IDAI Sumbar, konsultasi dan promosi Kesehatan mengenai stunting di sajikan oleh 4 orang dokter spesialis. Setiap peserta yang sudah diberikan penjelasan mengenai pencegahan stunting diberikan bingkisan dan minuman ringan. 

"Setelah kegiatan berlangsung kami melakukan evaluasi. Dimana masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi. Seperti ATK berupa grafik pertumbuhan anak yang masih kurang. Jumlah panitia yang kurang dalam mengisi posisi meja, sehingga terdapat regulasi peserta yang menumpuk di pendaftaran dan konsultasi," aujar Finny.

Kemudian, media promosi berupa poster yang kurang, pojok tahukah Aada sulit terlaksana karena tenda berukuran kecil. Kuis Kahoot berhadiah tidak terlaksana karena ukuran tenda yang kecil mengakibatkan peserta menumpuk dan pojok untuk Kuis Kahoot sempit.

"Setelah evaluasi kami merekomendasikan sarana yang dibutuhkan. Seperti grafik pertumbuhan anak lebih dilengkapi. Jumlah konsultan dan panitia yang mengikuti kegiatan lebih banyak. Regulasi dan pendaftaran peserta yang teratur, sehingga peserta tidak menumpuk pada satu pos. Kemudian ke depan kami akan memakai tenda yang lebih besar di acara berikutnya karena animo masyarakat sangat tinggi mengunjungi stand kami. Ke depan juga akan ada dokumentasi yang memadai," tutupnya Finny. YL


0 Comments