10 Tahun ke Depan Buruh Tani Langka? Ini Solusi dari IPB

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Arif Satria, saat memberi sambutan pada pelantikan Ketua Himpunan Alumni IBP Sumbar. YL


PADANG-Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Arif Satria, menilai regenerasi petani menjadi hal krusial yang harus dilakukan pemerintah sekarang ini. Sebab 10 hingga 15 tahun mendatang, Indonesia akan mengalami krisis buruh.


Kondisi itu katanya akan berdampak pada sektor pertanian. Solusi terhadap krisis buruh, melakukan percepatan penggunaan teknologi pertanian dari sekarang.


"Jadi ketika terjadi krisis buruh,teknologi bisa menggantikan," terang Arif, usai pelantikkan dan serah terima jabatan Ketua Alumni IPB Cabang Sumbar, periode 2021-2024 Jumat malam (9/4) di auditorium gubernuran.


Disebutkannya, 10 hingga 15 mendatang Indonesia akan krisis buruh karena usia petani ketika itu sudah 50 -56 tahun. Saat itu apakah anak-anak mereka melanjutkan pekerjaan mereka sebagai petani atau tidak. Jika melanjutkan maka mereka tidak mungkin akan jadi buruh tapi jadi pemilik. Kalau jadi pemilik saat itulah krisis buruh.


"Jadi regenerasi petani harus didorong, mau tidak mau harus dilibatkan kampus-kampus yang ada di sumbar. Sehingga program-program pembangunan pertanian di Sumbar bisa diisi dengan kekuatan lulusan perguruan tinggi di Sumbar. Mereka sekaligus menjadi agrofrenuer dengan pendekatan serba baru, ketika kita tidak bisa mempertahankan pertanian konvensional," terang Arif Satria.


Pemanfaatan lahan-lahan tidur menjadi masalah sekarang ini. Lahan luas tapi sebagian belum bisa digunakan dengan baik. Ini merupakan tantangan pemerintah dengan dunia kampus khususnya IPB untuk bisa mendorong agar lahan tidur dibudayakan dan diberdayakan untuk petani-petani milenial.


"Jadi petani milenial di Sumbar diusulkan bisa difasilitasi untuk memanfaatkan lahan-lahan tidur. Ajak mereka latihan guna mendorong peningkatan produktivitas pertanian di Sumbar


Di IPB saat ini katanya, pihak kampus sedang melakukan mapping terhadap mahasiswa baru. Mereka yang minat menjadi pelaku usaha kisarannya sekitar 30 persen. Ini sebuah angka yg sangat besar dan bagus. Pihak IPB sekarang sudah mulai mendisain. Sejak tahun 1, 2, 3 dan 4 IPB ada program sistimatis, dari bisnis planing, mentoring hingga bisnis inkubasi. Mahasiswa didorong ikut program starup school, agrofrenuer farm dan lainnya.


"Kami mendorong agar anak-anak IPB yang berminat dengan dunia pertanian, kami disain secara sistimatis, sehingga mereka lulus sudah siap menjadi pelaku bisnis," terangnya.


Menurutnya trend minat milenianal jadi petani sekarang naik karena angka nasional saat ini 69 persen milineial di Indonesia berminat untuk mengembangkan bisnis baru. Bisnis sekarang yang paling menguntungkan adalah bisnis pertanian. Misalnya diera pandemi Covid-19 sektor pertanian jadi penyelamat ekonomi.


Artinya jika sektor pertanian positif maka prospek bisnis di Sumbar sangat potensial dan harus dimanfaatkan momentum yang ada. Ketika sektor pertanian jadi penyelamat ekonomi, ke depan harapannya pemerintah punya komitmen besar untuk selalu berpihak pada sektor pertanian. Sebab sektor ini sudah terbukti tahan banding dalam kondisi apa pun. sektor pertanian harus jadi panglima untuk perekonomian nasional.


Saat krisis sektor pertanian dipuji-puji karena jadi penyelamat setelah krisis berlalu dilupakan. Jadi pemerintah harus refrokusing dan konsisten fokus pada sektor pertanian yang jadi panglima ekonomi nasional.


Dalam pandangannya, Sumbar perlu ada percepatan transformasi teknologi pertanian terkini atau 4.0. Itu harus jadi prioritas provinsi dan kab kota.

"Yang paling penting dengan transformasi itu peran alumni IPB bersinergi dengan universitas lain di Sumbar memperbanyak learning center. Dengan banyak learning center sebagai pembelajaran bagi petani maka Sumbar bisa memacu produktivitasnya," sebut Rektor. YL


0 Comments